Libur sekolah tiba, saat itu saya yang sedang duduk di
bangku SMP di ajak berlibur oleh orang tua saya, pagi itu kami berangkat
sekitar pukul 06.00 WIB dari Depok. Melewati tol Bogor, jalanan masih lancar.
Terjadi sedikit kemacetan di pasar Cicurug. Setelah itu lalu lintas cukup padat
tetapi masih lancar. Di Cibadak kembali terkena macet walau tak separah kalau
di siang hari.
Sampai Cibadak, kami melewati rute kedua (Jakarta – Ciawi –
Cicurug – Cibadak – Sukabumi – Jampang Tengah – Jampang Kulon – Surade – Ujung
Genteng). Menurut informasi bapake yang
di dapatdari internet, rute ini hanya memerlukan waktu sekitar 7 jam,
sedangkan rute pertama (Jakarta – Ciawi – Cicurug – Cibadak – Pelabuhan Ratu –
Cikembar – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng) menyita waktu 8,5 jam.
Ingin hemat waktu, namun kenyataannya jalur Sukabumi ini
malah lebih lama karena saat itu sedang terjadi pengaspalan jalan di daerah
Jampang Tengah. Jalan berlubang dan tumpukan material menghambat perjalanan.
Rasa kesal karena buruknya jalan terobati dengan indahnya pemandangan di
Jampang Tengah. Saya bisa menyaksikan perkebunan kopi di pinggir jalan. Juga
melihat pekerja kebun teh memetik daun
serta pekerja pria memikul jerigen berisi obat-obatan untuk membunuh rerumputan
di bawah pohon teh. Jalanan tetap
berliku.
Sekitar jam 01.00 siang, Kami memasuki Surade, pintu masuk
ke Ujung Genteng. Hawa laut sudah terasa. Deretan pohon kelapa di kiri dan
kanan jalan menyambut kedatangan kami. 15 km sebelum pantai, birunya air laut
sudah terlihat di sisi kiri jalan. Makin dekat, laut makin jelas, baik dari
sisi kanan maupun kiri. Ujung Genteng adalah sebuah tanjung yang menjorok ke
laut. Di antara deretan pohon kelapa, tampak puluhan sapi yang dibebas liarkan
di areal itu. Menurut informasi, sapi itu tak dikandangkan. Masuk akal karena
tak ada kandang di dekat situ. Makin dekat ke pantai, terdapat pintu gerbang
untuk membeli tiket masuk. Berapa harganya, saya tak tahu karena saat itu pos
dalam keadaan kosong. Mugkin petugasnya sedang menghadiri acara kawinan di
samping pos. Setelah pos jaga, terlihat monumen peluru kendali serta gapura
bertulisakan Satlatpur AU Atang Sendjaja.




Pukul 19.30 kami sudah kembali ke hotel. Kami akan berangkat
ke turtle park pukul 20.00. Katanya jam 19.00 tadi sudah ada satu penyu yang
membuat lubang untuk bertelur. Di perkirakan jam 21.00 penyu sudah bertelur.
Saya harus naik ojek karena jalan menuju kesana tidak dapat dilewati mobil,
jalan sempit dan penuh bebatuan. Tarifnya Rp 40.000 untuk satu ojek. Untungnya
saya tidak ketiduran di ojek karena waktu SMP saya jarang tidur malam.

Menunggu bel berbunyi (tanda untuk melihat penyu bertelur),
kami melihat penangkaran telur yang terletak persis di belakang pintu masuk.
Telur dari satu induk dijadikan satu dan diberi tanda waktu lahirnya. Masa
menetas sekitar 50 hari. Menjelang menetas, telur itu diberi kawat kassa agar
anak-anak itu tak berlarian. Sayang, saat menyaksikan penangkaran hanya
ditemani lampu senter sehingga hanya remang-remang.
Jam 21.15 bel berbunyi. Saya dan rombongan, sekitar 20
orang, masuk ke bibir pantai. Tak boleh menyalakan lampu, termasuk dari
handphone. “Nanti mata bisa beradaptasi,” teriak guide. Benar, sesampai di
pasir yang lembab dan dingin, mata saya bisa melihat mana jalanan dan mana
tanaman. Sekitar 50 meter dari pintu masuk, seekor penyu berukuran panjang
sekitar 1 meter dengan diameter 60 cm sedang bertelur di bawah pohon. Saya tak
boleh menyalakan blitz ke arah laut. Pemotretan harus mengarah ke daratan agar
cahaya tak kena laut. Penyu sangat sensitif. Bisa mlihat cahaya dari jarak 25
meter. Jika melihat cahaya, penyu yang mau bertelor ke daratan bisa balik lagi
ke laut dan mengurungkan niatnya.
Seekor penyu bisa bertelor sekitar 100 butir. Masa bertelur
dua bulan. Mereka akan balik ke lubang yang sama dalam 12 hari sehingga lubang
tak mengalami perubahan. Telur sebesar bola pingpong itu dimasukkan ke dalam
lubang buatannya, lalu ditutup setelah selesai bertelur. Untuk menutup lubang
bisa membutuhkan waktu 1 jam. Penyu baru beranjak pergi setelah yakin kalau
telur-telurnya dalam kondisi aman. Setelah bertelur penyu akan menghilang
selama dua tahun. Penyu yang saya lihat tadi, menurut guide dari Amanda Ratu
Hotel, masih muda. Penyu baru berpacaran pada usia 40 tahun. Umurnya bisa
mencapai 200 tahun. Jam 22.00 penyu belum juga berjalan ke arah pantai. Kami
memutuskan untuk balik ke hotel, menyimpan tenaga untuk esok hari.
Senin, 5 Juli 2010
Jam 05.00 saya bangun. Pagi buta saya menuju ke tempat
pelelangan ikan. Sepi.Belum ada kapal nelayan yang merapat. Setengah jam
menunggu, masuklah beberapa kapal kecil. Nelayan menururnkan ikan hasil
tangkapannya. Tak banyak karena sedang susah mendapatkan ikan. Kapal dengan
empat nelayan hanya membawa pulang dua ikan pari dan satu ikan besar (entah apa
namanya) serta beberapa ikan kecil. Sepertinya tak sebanding dengan ongkos
produksi saat melaut. Ikan-ikan itu ditimbang ke juragan yang menampung hasil mereka.
Di tempat pelelangan juga sepi. Kami tak jadi membeli ikan satu pun.
Mobil menuju ke arah Surade mencari sarapan. Tak ada
restoran atau warung yang cocok. Akhirnya kami memutuskan sarapan dengan roti
yang kami beli sebelumnya.


No comments:
Post a Comment